FeaturedNasional

Campuran Aspal dan Karet Akan Diaplikasikan di Ruas-ruas Jalan Kabupaten

[ad_1]

JAKARTA, (PR).- Pemerintah menargetkan bisa mengaplikasikan campuran karet untuk ‎pengaspalan jalan kabupaten sepanjang 380 ribu km. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan penyerapan produksi karet dalam negeri sehingga mendongkrak laju harga komoditas tersebut.

‎Pelaksana tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kementrian Perindustrian, Achmad Sigit ‎Dwiwahjono mengatakan penggunaan karet untuk campuran aspal sudah dilakukan sejak 2018. Namun capuran bahan tersebut saat ini lebih banyak diaplikasikan ke jalan-jalan nasional.

“Sekarang rencananya akan diperluas lagi untuk penggunaan jalan-jalan daerah. Pemerintah daerah didorong untuk menggunakan campuran aspal karet ini,” ujar Sigit usai rapat koordinasi di Kantor Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin 21 Januari 2019.

Dia mengatakan, ketahanan aspal campuran karet teruji lebih baik.‎ “Kami sedang mendata jalan-jalan yang bisa menggunakan karet sebagai bahan campuran aspal. Paling banyak ternyata jalan kabupaten sekitar 380 ribu kilometer,”ujar dia.

Dia menambahkan, pemerintah menargetkan penyerapan karet untuk bahan baku aspal sebanyak 2.542 ton dengan anggaran Rp 20 miliar. Penyerapan tersebut dilakukan oleh Kementrian ‎Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Sementara total produksi karet setiap tahunnya sebesar 3,2 juta ton. Sebanyak 0,6 juta ton diantaranya diserap untuk kebutuhan domestik. Sementara sisanya digunakan untuk ekspor.

Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan pemerintah Indonesia tengah berkomunikasi dengan Thailand dan Malaysia untuk menelusuri mengenai anjloknya harga karet di tingkat dunia.‎ Diduga anjloknya harga karet tersebut disebabkan oleh adanya spekulan.

“Sebenarnya (produksi) karet tidak over suplay, tapi ko harganya turun terus? Pasti ada yang tidak beres,”ujar dia.

Darmin mengatakan, ada tempat yang paling menentukan harga karet dunia yaitu bursa Singapura dan Bursa Shanghai. ‎”Ada spekulan yang banyak memainkan informasi. Kita sudah melihat stoknya, paling (habis) dua bulan (kebutuhan dunia). Itu mestinya gak jatuh harganya,”kata dia.

Meskipun demikian, Darmin mengatakan,‎ Indonesia tidak bisa bergerak sendiri dalam mengatasi harga karet yang terus merosot. Indonesia perlu bekerja sama dengan negara produsen karet lainnya.

“Kita sedang galang komunikasi dengan Thailand dan Malaysia untuk menelusuri udah pada tau sebenarnya, tapi kita perlu kerja sama dalam mengambil langkah. Kalau Vietnam juga produsen karet, tapi dia tidak mau (kerja sama),”ujar dia.***

[ad_2]

Source link

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker